Hari itu cuaca cerah. Langit begitu biru tanpa awan sedikit pun. Nancy mengenakan mantel panjang warna krem dan kacamata hitam. Ia baru saja selesai menghadiri pertemuan dengan rekan komunitas sosial yang ia ikuti, dan memutuskan untuk makan siang lebih awal sebelum menjemput si kembar dari rumah mertuanya. Ia memilih restoran yang tidak begitu ramai, yang dulunya sering ia kunjungi bersama Vincent. Sebuah tempat dengan pemandangan jendela besar menghadap taman kota yang tenang. Nancy masuk dan duduk di pojok, memesan teh dan salad, lalu membuka ponselnya, menelusuri berita tanpa terlalu fokus. Namun baru beberapa menit duduk, suara yang sangat dikenalnya terdengar samar. Suara tawa rendah yang membuat tubuhnya langsung menegang. Nancy menoleh pelan. Jantungnya berdegup keras. Tidak sal

