Mita mengibaskan tangannya. Mengahadapi suami seperti Johan memang tidak bisa dengan perasaan. Yang ada malah makin menambah sakit hatinya saja. "Sudahlah, Mas. Nggak perlu bahas hal ini lagi. Aku sudah capek. Terserah Mas Dokter saja mau ngapain. Masih mau cinta sama Moza lah ... nggak peduli perasaanku lah ... aku sudah tak mau lagi ambil pusing. Yang penting bagiku sekarang adalah fokus pada pesta resepsi karena aku nggak ingin membuat semua kecewa. Tapi nggak tahu lagi jika justru Mas Dokter sendiri yang membuat mereka kecewa. Itu bukan urusanku." "Kamu kenapa ngomong seperti itu?" Mita hanya mengedikkan bahunya. Yah, Mita sudah putuskan untuk membiarkan rumah tangganya berjalan mengalir begitu saja. Mita sudah pasrah. Jika memang di tengah jalan akan timbul benih-benih cinta, Mita

