Satu Nama yang Membuka Semuanya

1053 Words

PoV Bagas Aku membuka pintu ruang briefing dengan dorongan pelan. Suara engselnya terdengar lebih nyaring dari biasanya. Mungkin karena pikiranku masih penuh oleh percakapan tadi. Arman dan Reva langsung menoleh ke arahku. Tatapan mereka sama, menunggu. Aku menutup pintu di belakangku, lalu berjalan masuk tanpa banyak bicara. Berkas di tanganku terasa lebih berat dari seharusnya. Aku meletakkannya di meja. “Dari Raka,” kataku singkat. Arman menyandarkan tubuh ke kursinya. “Seberapa serius?” Aku tidak langsung menjawab. Sebaliknya, aku menarik kursi dan duduk. Menghela napas pelan sebelum akhirnya bicara. “Ini bukan kasus biasa.” Reva langsung bergerak mendekat.nLaptopnya dia geser ke samping, fokusnya sepenuhnya ke berkas di meja. “Jelaskan,” katanya. Aku membuka map pertama. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD