“Bima menarik napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi. “Febi, jangan mulai lagi—’” Namun Febi justru mendahuluinya. Dia melangkah masuk dengan wajah cemberut, menaruh paper bag di atas meja dengan sedikit hentakan. “Aku kecewa banget!” suaranya meninggi. “Ini kan resepsi pernikahan Kak Bima. Tapi kenapa aku sama sekali nggak dilibatkan? Dari pilih gaun, dekorasi, sampai souvenir— aku justru tahunya dari pembantu di rumah!” Nina yang tadinya hanya diam ikut terperangah. Matanya membesar, apalagi ketika Febi tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan tatapan menusuk. “Jangan-jangan ini semua ulah kamu?” tuduh Febi, nada suaranya penuh emosi. “Kamu sengaja, ya, nggak melibatkan aku? Supaya aku terlihat nggak penting di keluarga?” Nina refleks menegakkan badan, kedua tangan

