Raissa hanya bisa menjadi pendengar yang baik, ketika putrinya menjelaskan beberapa masalah yang ada di masa lalu. Kiya menerangkan tentang siapa Restu dan semua pernyataan yang sudah dilontarkan pria itu. “Tapi, Bun, aku nggak percaya yang diomongin pak Restu itu,” kata Kiya setelah menceritakan semuanya pada Raissa. “Ayah nggak mungkin begitu, kan? Aku dari tadi nyoba nelpon Garry, tapi nggak diangkat-angkat. Mungkin lagi kerja, atau … nggak tahulah.” Raissa yang baru merebahkan diri di tempat tidur, tidak bisa berkomentar banyak. Ia juga tidak tahu tentang masalah yang diceritakan oleh Kiya barusan, sehingga tidak bisa mengambil kesimpulan apa pun. “Kita tunggu penjelasan dari Garry aja. Karena Bunda juga nggak tahu apa-apa, Ki.” Kiya menuangkan body serum ke telapak tangan, lalu men

