Sena menyusuri lorong Rumah Sakit sambil merasa seperti ada yang mencubit hatinya. Bukankah seharusnya dia merasa senang karena jika Rayhan memiliki seorang wanita disampingnya, tidak akan ada alasan lagi untuk terus mengganggunya? Tapi entah kenapa ada perasaan kosong di hati Sena membayangkan Rayhan tidak lagi datang untuk menawarinya tumpangan. Begitu sampai di pelataran Rumah Sakit, hujan turun dengan derasnya. Membuat Sena mendesah dengan lelah. Wanita itu kemudian mengambil ponselnya dan mencoba mengirim pesan pada Satria untuk meminta bantuan karena dia tahu bahwa kakaknya sedang ada pekerjaan penting. “Sat, udah keluar kerja belum? Bisa tolong jemput aku nggak? Soalnya hujan deras banget aku di Rumah Sakit. Hari ini kamu katanya bawa mobil kan?” Sena sedikit ragu menulisnya tapi

