Malam itu benar-benar menutup pintunya bagi Eka. Lampu-lampu taman mansion menyala terang, memantulkan bayangan panjang di halaman depan. Angin malam berembus pelan, tapi tidak mampu mendinginkan amarah yang membakar d**a Eka. Koper kecil dan beberapa paper bag miliknya tergeletak begitu saja di dekat gerbang, dikeluarkan tanpa sisa penghormatan. Eka berdiri dengan rahang mengeras, kedua tangannya mengepal. “Lihat saja besok,” gumamnya penuh dendam, matanya menatap bangunan besar yang kini terasa asing. “Aku akan ceritakan semuanya ke Mbak Rere. Semuanya. Dan bisa dipastikan aku bakal balik ke sini.” Ia menunduk, meraih tasnya dengan kasar. “Atau … Alan akan aku ambil,” lanjutnya lirih, senyum miring terbit di sudut bibirnya, seolah yakin rencananya akan berhasil. Umi berdiri tak jau

