Eka berdiri terpaku di tengah koridor mansion, dadanya naik turun menahan emosi yang tak tersalurkan. Baru kali itu ia sadar—seharusnya ia menunggu Bram. Seharusnya ia ikut berangkat ke rumah sakit. Seharusnya ia menahan lidahnya, menahan tangannya, menahan kebenciannya pada Alea. Namun semuanya sudah terlanjur. Kelakuan buruknya barusan tidak hanya terlihat oleh Alea dan Ida, tetapi juga oleh Bram sendiri. Ia mendesah kesal, memijat pelipisnya. Ponsel di tangannya berdering. Nama Ibu menyala di layar. “Ya, Bu,” jawabnya cepat, berusaha menormalkan suara. “Kamu masih di rumah?” tanya Bude Laksmi dari seberang, suaranya terdengar pelan namun tegas. “Iya, masih,” jawab Eka singkat. “Cepat ke rumah sakit. Kalau bisa bareng dengan Bram. Mbakmu ingin bertemu dengan suaminya.” Eka menari

