Masih di hari yang sama, di kantor polisi yang hiruk-pikuknya tidak pernah benar-benar reda. Langkah Deni terdengar mendekat di lorong sempit yang dindingnya dipenuhi papan pengumuman dan poster prosedur hukum. Ia baru saja keluar dari ruangan administrasi, wajahnya sedikit lelah, dasinya sudah agak longgar. Di tangannya ada map tipis berwarna biru—belum berisi kepastian, hanya berisi proses. Begitu pintu ruangan terbuka, Rere yang sejak tadi duduk dengan kaki disilangkan langsung menoleh. Tatapannya penuh harap. Di sampingnya, Faisal berdiri sambil bersandar ke tembok, memainkan ponselnya seolah santai, sementara Bude Laksmi duduk tegak, jemarinya masih lincah mengetik sesuatu di layar ponsel. “Bagaimana?” Rere bertanya cepat, bahkan sebelum Deni sempat duduk. Deni menghela napas pela

