Bab 51. Pak Bram Salah Minum Obat?

1446 Words

Koridor sayap timur terasa lengang ketika Ray keluar dari ruang kerja Bram. Lelaki itu menutup pintu perlahan, seolah khawatir suara kecil pun dapat mengguncang isi kepala sahabatnya yang sudah berat oleh pergulatan batin. Bram masih berdiri di balik meja, memijit pelipis. Berkas-berkas yang baru saja diberikan Ray berserakan rapi, tetapi beban yang dibawanya jauh lebih tidak teratur. Ray tadi melaporkan hasil kunjungan ke kampus terdekat mengenai kemungkinan perpindahan mahasiswa atas nama Alea. Ia menyerahkan beberapa dokumen yang harus diisi dan ditandatangani oleh Alea, lalu meletakkan sebuah laptop baru di meja Bram—permintaan Bram sendiri untuk memudahkan Alea kuliah. Namun sebelum pergi, Ray menatap Bram lama, tatapannya seperti tajam namun hangat. “Aku cuma mau bilang satu hal,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD