Bab 113. Bram Tidak Akan Bisa Menangkapku!

2006 Words

Lorong menuju lift terasa lengang, hanya suara langkah kaki Rian yang bergema ringan di lantai keramik rumah sakit. Wajahnya tetap tenang, profesional, meski pikirannya penuh oleh rangkaian peristiwa yang nyaris tak memberinya jeda sejak kemarin. Baru saja ia keluar dari ruang ICU. Penjelasan dokter masih terngiang jelas di kepalanya. Benturan hebat. Mengenai batang otak. Belum bisa diprediksi kapan sadar. Artinya satu: Prita berada di antara hidup dan mati. Dan jika ia sadar sekalipun, belum tentu kembali utuh seperti sebelumnya. Rian menghembuskan napas pelan. Di satu sisi, ada rasa getir—bagaimanapun Prita hanyalah pion dalam rencana busuk yang lebih besar. Tapi di sisi lain, ini adalah konsekuensi dari pilihan. Ia menekan tombol lift lantai tujuh. Belum sempat pintu lift terbuk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD