“Ayoolah, Ar…tak perlu malu. Aku sudah sepakat dengan ibu…” Sean mencolek hidung Arsih sembari berjalan menuju ke dalam dan merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur milik Arsih. Arsih menyadri akan tingkah semena-mena Sean ketika bersamanya, akhirnya arsih mengejar Sean dan menarik tangan pria itu. “Bangun, dan pergi dari sini…” Arsih menatap Sean tajam. “Sudahlah, aku sedang tidak ingin di ganggu, aku lelah sekali. Aku kehabisan tenaga karena menahan rindu untukmu…” jawab Sean santai sembari memperbaiki posisi tidurnya. Lalu tangannya memegang sesuatu. Matanya terbelelak lebar setelah melihat dengan jelas apa yang ada di tangannya. “Apa-apaan ini?” Tanyanya menatap Arsih yang hendak marah mendadak terdiam dan wajahnya bersemu merah. Semua kosa kata yang tadi hendak dia lontarkan hilan

