“Kau urus itu, Jenni. Jangan sampai rencana pertunangan mereka putus di tengah jalan. Kau harus menjaga putra kita jatuh ke tangan wanita yang salah! Kau tahu bagaimana persahabatanku dengan Wibowo. Segera sadarkan Sean. Atau aku akan mati berdiri karena ulah anak kesayanganmu itu!” Johannes mulai mengatur nafasnya satu-satu agar tak terlalu menyesakkan dadanya. “Sudah-sudah. Jangan kau terlalu memikirkan masalah percintaan anak-anak. Biarkan mereka mengurusi urusannya sendiri. Kau cukup fokus dengan bisnis kita…” bujuk Jennifer menenangkan sang suami dan mencari cara terhalus agar Johannes tidak mengintimidasi Arsih. Dia memahami bagaimana kerasnya sifat sang suami ketika sesuatu tidak sesuai dengan rencana yang dia inginkan. “Bagaimana aku bisa fokus, Jen?” hardik Johannes lagi membuat

