76 | Pamitan

1206 Words

Elang merengkuh tubuh Ava yang saat itu menangis hebat selepas menyaksikan sidang. Elang mengerti tangis ini karena apa. Well ... mereka sedang di mobil. Pasti berat, kan? Bagaimanapun Ava bukan anak berhati dingin hingga saat menjebloskan papanya ke penjara, dia alih-alih tersenyum penuh kemenangan malah menangis. Elang memahami itu. Yang di dekap lebih erat lagi tubuh sang istri. Elang menyalurkan kekuatannya dari sana, berharap Ava mendapati ketenangan dari eksistensi Elang di sini. Tak bisa berkata apa-apa, Elang yakin Ava juga hanya butuh didekap, didengarkan suara isaknya. Waktu berlalu, tangis Ava mulai mereda. Bersisa isakan kecil dan mata sembap di wajah. Tak membuat Ava jadi jelek, percayalah. Elang pupuskan jejak tangis itu. Tak lupa memberikan Ava tisu. Sementara dem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD