“Pak!” “Mas, Ayuna!” Elan langsung melotot saat dia kembali mendengar panggilan Ayuna yang tidak berubah. Dia menyentil kening wanita itu dengan tatapan penuh peringatan, namun Ayuna justru terlihat tidak peduli. “Kenapa tidak mulus mendaratnya, sih, Pak?!” Ayuna sedikit berteriak dan langsung memeluk lengan Elan saat helikopter itu mengalami turbulensi kecil karena angin saat ketinggiannya menurun perlahan. “Mas, Ayuna!” Elan kembali menggeram saat Ayuna lagi-lagi memanggilnya Mas. Kening Ayuna kembali disentil, seolah pria itu tidak peduli dengan Ayuna yang sedang tremor sebab guncangan kecil dalam pendaratan mereka. “Jangan berlebihan, Ayuna. Ini hanya pendaratan kecil.” Elan mendengus, meski mengakui jika tadi anginnya memang cukup kuat dan helikopter mereka sampai goyan

