Dua hari sudah berlalu, Dirga hanya bisa menyesali perbuatannya. Permintaan maaf tidak hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan tindakan. Hari ini Nisa sudah di perbolehkan pulang, sebab keadaannya sudah membaik. Langkah kaki terasa berat kala terdengar suara canda tawa seseorang wanita di ruang keluarga. Nisa menghentikan langkahnya sejenak, begitu juga dengan Dirga. “Sayang, ada apa?" Nisa menoleh, lalu menggelengkan kepalanya. dia kembali melangkah sampai di ruang keluarga dia melihat seseorang yang membuatnya kehilangan kepercayaan pada suami dan keluarganya. Tawa yang begitu terlihat bahagia, di sana putranya juga terlihat begitu bagahagia. Dirga menautkan kedua alisnya. “Citra?" Citra menoleh, menghentikan tawanya sejenak. “Abang sudah pulang? Maaf aku datang tidak memberi

