Malam semakin larut, semua orang mulai tertidur lelap, tetapi seorang remaja terlihat sangat gelisah, sejak tadi tidak bisa memejamkan matanya. Beberapa kali mendesah pelan, sampai membuat seseorang di sebelahnya merasa terusik. “Mas, kamu belum tidur?" Ghaffi menoleh. “Belum, Bi, maaf kalau Mas buat Abi terganggu." Jawabnya, kembali mencoba memejamkan matanya. Rayyan menghela nafas panjang, lalu mengubah posisinya menjadi duduk. “Ambil wudhu, terus Shalat Istikharah biar Mas mendapatkan jawaban dan segera mengambil keputusan." Titah Rayyan. Dia tau putranya tengah gelisah dan bimbang, Nisa akan kembali besok pagi. Ghaffi juga bimbang apakah dia akan menerima tawaran Dirga untuk kuliah keluar negeri? Lalu bagaimana jika dirinya pergi, dia tidak bisa meninggalkan Rayyan. Ghaffi

