bc

Gairah di Balik Awan: Melambung Tinggi Bersama Sang Duda Penguasa Langit

book_age18+
3
FOLLOW
1K
READ
family
HE
boss
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
kicking
city
office/work place
disappearance
addiction
like
intro-logo
Blurb

​"Aku adalah penguasa langit, tapi di hadapanmu, aku hanyalah pria yang sedang memohon ampunan."

​Arina Kirana mengira ia telah menemukan surga di pelukan Devan Argawinata, sang duda kaya raya pemilik maskapai sekaligus pilot tangguh. Namun, ketenangan itu hancur saat sosok Amanda muncul kembali—wanita yang dulu menghancurkan pernikahan Arina dengan Damar.

​Trauma dikhianati Damar membuat Arina tak lagi percaya pada kata setia. Saat harga dirinya diinjak, sang dokter memilih untuk pergi. Sebuah tiket satu arah ke London menjadi bukti bahwa Arina siap melahirkan dan membesarkan bayinya tanpa campur tangan sang "Penguasa Langit".

​Namun, Devan tak akan membiarkan dunianya lepas landas begitu saja.

​Satu laporan masuk: "Nyonya Besar ada di Gate 5."

​Hanya butuh satu perintah dari sang CEO untuk membekukan seluruh operasional bandara.

Satu bandara geger.

Satu pesawat tertahan.

Di hadapan ratusan penumpang yang terpaku, sang penguasa langit itu berlutut di lorong kabin pesawat.

Akankah Arina memberikan landasan untuk Devan kembali pulang?

chap-preview
Free preview
Sindiran di Meja Makan.
​"Masakan ini memang nikmat sekali, Arina. Tapi rasanya tetap saja ada yang kurang ... Sepertinya akan jauh lebih nikmat kalau diiringi suara tawa bayi di rumah ini." ​Suara Lastri memotong keheningan ruang makan dengan ketajaman yang melampaui pisau steak perak di tangan Broto. Arina tersentak, jemarinya yang ramping seketika membeku di atas sendok porselen. Aroma rendang yang kaya rempah dan gulai yang kental meruap ke udara, namun bagi Arina, udara di ruang makan kediaman Prasetya itu tiba-tiba berubah menjadi hampa. Ia merasa paru-parunya menyempit, persis seperti pasien asma yang sedang mengalami serangan akut di unit gawat darurat rumah sakit tempatnya bekerja. ​Arina menarik napas perlahan, mencoba menjaga ritme jantungnya agar tetap stabil. Sebagai seorang dokter spesialis anak, ia terbiasa menghadapi tekanan nyawa di meja operasi, namun tekanan di meja makan ini adalah jenis peperangan yang berbeda. Ia menelan makanan yang mendadak terasa seperti gumpalan pasir kasar di kerongkongannya. ​"Aku masih berusaha, Ma. Kami berdua masih berusaha," suara Arina terdengar tipis, hampir tenggelam oleh denting sendok yang sengaja dikeraskan oleh Lastri. ​"Berusaha?" Lastri meletakkan sendoknya dengan gerakan yang disengaja agar menimbulkan bunyi nyaring. Beliau melepas kacamata mahalnya, menatap Arina tanpa kedip. "Berusaha itu ada hasilnya, Arina. Kalau sudah lima tahun tanpa kabar, itu namanya bukan berusaha, tapi menunda. Atau mungkin memang rahimmu yang bermasalah karena terlalu sering kamu abaikan?" ​Arina menghentikan kunyahannya sepenuhnya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang sopan, meski dadanya berdenyut nyeri. "Secara medis, semua butuh proses, Ma. Lagipula, belakangan ini jadwal operasi ku sedang sangat padat, mungkin kondisi fisik yang kelelahan juga berpengaruh pada hormon." ​"Operasi orang lain kamu urus sampai lupa waktu, tapi operasi masa depan keluarga ini kamu abaikan," sahut Broto dengan suara baritonnya yang berat. Beliau tidak menatap Arina, melainkan sibuk memotong daging di piringnya dengan gerakan kasar. "Lima tahun, Arina. Bukan waktu yang singkat bagi seorang laki-laki untuk menunggu. Teman-teman Papa sudah menimang cucu kedua, bahkan ketiga. Sedangkan kami? Rumah ini masih sesunyi kuburan setiap kali kalian datang berkunjung." ​Damar, yang duduk di samping Arina, tetap bungkam. Pria itu tampak sibuk dengan ponsel di bawah meja, ibu jarinya bergerak cepat, seolah ada urusan maskapai yang jauh lebih penting daripada istrinya yang sedang dihakimi secara terbuka. Arina menarik napas panjang, mencoba memanggil logika medis yang menjadi kekuatannya selama ini untuk membela diri. ​"Pa, Ma, aku sangat mengerti keinginan kalian. Namun, secara medis, ada banyak faktor yang memengaruhi pembuahan. aku sudah memeriksa jadwal siklus ku dengan sangat teliti. Masalahnya, jendela masa subur itu sangat sempit, hanya sekitar dua puluh empat hingga empat puluh delapan jam dalam sebulan. Sering kali, di saat-saat krusial itu, Mas Damar sedang bertugas terbang ke luar negeri atau sedang berada di luar kota." ​Lastri tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telinga Arina. "Jangan gunakan istilah-istilah medis itu untuk menutupi kekuranganmu sebagai wanita, Arina. Mama juga dulu sibuk mengurus yayasan, tapi Mama tetap bisa hamil. Mama rasa masalahnya bukan pada jadwal Damar, tapi pada rahimmu yang mungkin sudah terlalu 'dingin' karena kamu lebih sering memeluk stetoskop daripada suamimu sendiri." ​"Ma, tidak begitu cara kerjanya," Arina mencoba menyela dengan nada yang masih terjaga, meski tangannya mulai gemetar di bawah meja. "Hormon stres juga berpengaruh besar. Tekanan yang aku terima setiap kali kita makan malam seperti ini justru memperburuk kondisi fisiologis aku. Jika kita bisa lebih tenang dan membiarkan proses ini berjalan alami tanpa tekanan yang konstan—" ​"Alami katamu? Sampai kapan? Sampai Papa dan Mama masuk liang lahat?" Broto menggebrak meja dengan pelan namun bertenaga, membuat air di dalam gelas kristal milik Arina bergetar hebat. "Damar adalah anak tunggal. Nama besar keluarga Prasetya ada di pundaknya. Kalau kamu tidak mampu memberikan ahli waris, jangan salahkan kami jika kami mulai berpikir untuk mencari jalan lain yang lebih pasti." ​Kalimat itu menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh. Jalan lain. Arina tahu persis apa artinya dalam kamus keluarga tradisional seperti mereka. Arina menoleh ke arah Damar, berharap suaminya akan mengeluarkan satu kata saja untuk membelanya, atau setidaknya mengalihkan pembicaraan yang mulai tidak sehat ini. Namun Damar masih terpaku pada layar ponselnya, sebelum akhirnya ia tersentak seolah baru menyadari ketegangan yang terjadi di sekelilingnya. ​Damar meletakkan ponselnya dan menatap kedua orang tuanya dengan wajah memelas yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan hati Lastri. "Pa, Ma, sudahlah. Jangan terlalu keras pada Arina. Dia sudah bekerja sangat keras di rumah sakit demi pasien-pasiennya. Mungkin memang benar kata Arina, jadwal terbang aku yang terlalu padat belakangan ini yang menjadi kendala utama kami." ​Lastri mendengus, namun sorot matanya yang tadi sekeras baja sedikit melunak saat menatap putra kesayangannya itu. "Kamu itu terlalu baik, Damar. Kamu selalu membela dia, padahal kamu sendiri yang rugi waktu. Kamu itu pilot hebat, Kapten di maskapai ternama. Masa menanam benih saja tidak bisa? Kamu harus lebih tegas sebagai kepala rumah tangga." ​"Kami sedang berusaha, Ma. Janji, bulan depan aku akan minta jadwal standby lebih banyak agar bisa menemani Arina di rumah," ucap Damar dengan nada yang terdengar sangat meyakinkan, seolah ia sedang membuat pengumuman keselamatan di kokpit pesawat. Ia kemudian mengulurkan tangannya di bawah meja, meraih tangan Arina yang terasa sedingin es. ​Arina merasakan jemari Damar menggenggam tangannya dengan erat. Damar mendekatkan wajahnya ke telinga Arina, membisikkan kata-kata yang seharusnya terdengar romantis namun kini terasa hambar. "Sabar ya, Sayang. Jangan didengarkan. Aku selalu di pihakmu." ​Arina menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya. Damar tersenyum, namun Arina menangkap sesuatu yang ganjil. Tatapan pria itu terasa kosong, tidak ada percikan emosi atau amarah yang biasanya muncul saat seseorang membela orang yang dicintainya dengan tulus. Senyum itu terasa seperti topeng yang dipasang dengan sangat rapi, sebuah protokoler keselamatan yang biasa dilakukan kapten pilot sebelum melakukan pendaratan darurat untuk menenangkan penumpang yang panik. ​Saat genggaman tangan Damar semakin mengerat, Arina justru merasa jarak di antara mereka semakin lebar, selebar samudera yang sering dilintasi pria itu saat bertugas. Ia melihat ponsel Damar menyala sekali lagi di atas paha pria itu, memperlihatkan sebuah notifikasi singkat dari nama yang tertulis "Amanda". Sebuah pesan yang hanya terbaca sekilas: 'Aku tunggu di tempat biasa, Captain.' ​Arina terdiam, merasakan genggaman romantis itu tak lebih dari sebuah pengalihan agar ia tidak melihat kegelisahan suaminya yang sebenarnya. Saraf-saraf di tubuhnya seolah mengirimkan sinyal bahaya yang lebih besar daripada sekadar urusan rahim yang belum berbuah. Ada badai yang sedang disembunyikan Damar di balik seragam pilotnya yang gagah, dan Arina baru saja menyentuh ujung dari gumpalan awan gelap tersebut. ​Makan malam berlanjut dalam keheningan yang mencekam, hanya suara denting sendok yang sesekali memecah kesunyian. Broto akhirnya berdiri, menandakan sesi penghakiman malam itu telah usai. Beliau menatap Arina dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Pikirkan kata-kata Papa tadi, Arina. Karier bisa dicari, tapi kesempatan untuk meneruskan garis keturunan ini ada batas waktunya." ​Arina hanya bisa mengangguk kaku. Ia mengikuti langkah Damar menuju mobil setelah berpamitan dengan canggung kepada mertuanya. Di sepanjang koridor menuju parkiran, kepalanya dipenuhi oleh nama 'Amanda'. Nama itu terdengar cantik, namun terasa seperti racun yang perlahan meresap ke dalam pikirannya. Ia tahu Damar memiliki banyak rekan kerja, termasuk pramugari-pramugari muda yang selalu memuja kharisma sang kapten, namun insting wanitanya mengatakan bahwa Amanda adalah ancaman yang nyata. ​Mobil mulai melaju meninggalkan gerbang besar kediaman Prasetya. Cahaya lampu jalan masuk ke dalam kabin mobil secara bergantian, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Damar yang tetap tenang. Damar mulai menyalakan radio, memilih saluran musik jazz yang tenang, seolah tidak baru saja terjadi drama yang menghancurkan harga diri istrinya. ​"Mas," panggil Arina pelan, suaranya hampir pecah. ​"Ya, Sayang? Kamu capek banget ya?" jawab Damar tanpa menoleh, fokus pada kemudi. ​"Siapa Amanda?" ​Pertanyaan itu membuat mobil sedikit oleng sesaat. Cengkeraman tangan Damar pada kemudi terlihat mengeras, buku-buku jarinya memutih. Namun, sedetik kemudian ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat terlatih untuk menutupi kegugupan. "Oh, itu ... pramugari baru di timku. Dia sering bertanya soal prosedur teknis penerbangan. Kenapa? Kamu cemburu hanya karena chat-nya?" ​Arina tidak menjawab. Ia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak buram karena air mata yang mulai menggenang. Logika medisnya mengatakan bahwa stres akan menghambat kehamilan, namun kenyataan di depannya menunjukkan bahwa bukan stres yang menjadi penghalang utama, melainkan pengkhianatan yang dibungkus dengan sangat rapi oleh sang kapten pilot yang ia cintai.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
629.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.2M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
867.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
302.4K
bc

Not just, the Beta

read
310.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.0M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook