BAB 95. Menuntaskan Dendam#2

2003 Words

Ketika aku sampai di rumah, Ayah langsung memanggilku ke Ruang kerjanya dan mengunci pintu. Suasana di antara kami jadi sedikit mencekam. Ayah diam cukup lama dan akupun tidak berani membuka pembicaraan karena Ayah terlihat marah sekali. “Seharusnya Ayah sudah menyadari saat dia memberikan bunga pada Bunda kamu.” Desah Ayah sambil kembali menatapku setelah tadi mengalihkan pandangannya dariku. Aku bisa melihat ada kesedihan yang mendalam dari matanya. Dan pembicaraan ini membuat aku mulai paham kemana Alurnya. Aku mulai mengerti pembicaraan ini arahnya ke mana. “Bukan salah Ayah.” Ucapku yang entah kenapa terdengar lirih. Aku tidak tahu kemana perginya suaraku. Aku kehilangan sekali dan itu rasanya luar biasa menyakitkan, tapi Ayah dan Bunda kehilangan dua kali. Luka Ayah pasti jauh lebi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD