Aku sudah bangun sejak setengah jam lalu tapi aku sengaja masih menutup mataku. Aku juga sadar bahwa perutku sudah mengecil yang artinya bayiku sudah tidak ada. Entah bagaimana aku harus meminta maaf pada calon anakku karena aku membunuhnya demi untuk menyelamatkan ayahnya. Entah dengan cara apa aku memohon pengampunan padanya untuk sikap egoisku sebagai seorang ibu. Masih pantas kah aku di sebut seorang Ibu jika kelakuanku seperti ini? Nyatanya aku tidak bisa melindunginya dengan segenap jiwa dan ragaku seperti ibu lain di luar sana. Sekarang aku mengerti perasaan perempuan yang dulu kehilangan anaknya saat kecelakaan bersamaku. Aku mengerti kenapa dia berusaha menyalahkan orang lain karena menyadari bahwa diri sendiri tidak mampu melindungi anak yang di titipkan tuhan itu sakitnya luar

