Pukul setengah enam selepas subuh, Ina terkaget oleh rasa nyeri yang menusuk dari pinggang hingga ke perutnya. Sepuluh hari lebih awal dari jadwal perkiraan dokter, kontraksi itu datang tanpa peringatan. Memang, dokter sudah mengingatkan bahwa waktu persalinan tidak bisa dipastikan bisa maju, bisa mundur. Dan kali ini, tampaknya bayinya memilih jalur maju. Ina meringis, tubuhnya sedikit membungkuk ketika gelombang nyeri itu menguasai seluruh perut dan punggung bawah. Rasanya sulit dijelaskan, seperti mulas, tetapi berkali - kali lipat lebih kuat, disertai rasa linu yang membuat pinggangnya seakan ditarik dari dalam. Nafasnya terputus - putus, kedua tangannya refleks memegang perut. Ina tidak panik, rasanya terlalu sakit untuk memikirkan panik. Untungnya, rasa sakit itu hanya bertahan beb

