Cicit Popa

3303 Words

"Kepalaku pusing," ucap Dhannis begitu ia membuka pintu kamar, meletakkan tas kerjanya di sofa dekat pintu masuk, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa itu dengan napas berat. Ina, yang sedang menonton tv spontan menoleh. Dhannis bukan tipe yang mudah mengeluh. Setiap hari, meski pulang larut dan kelelahan, ia tetap berusaha menyapa dengan senyum atau bahkan bercanda sejenak sebelum tidur. Justru karena itulah, mendengar keluhan singkat barusan membuat Ina panik. Ia buru - buru mendekat, duduk di sisi suaminya, lalu menatap wajahnya yang terlihat pucat. "Kamu ada salah makan nggak?" tanya Ina dengan nada cemas. Dhannis memejamkan mata sebentar, berusaha mengingat. "Nggak ada kayaknya. Makan seperti biasa dan rasanya enak - enak aja," jawabnya pelan. Ina menghela napas, mencoba tetap tenang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD