Sore itu, Kafetaria Rumah Sakit Royal seperti biasa mulai dipenuhi oleh hiruk - pikuk suara kaki dan percakapan pengunjung. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Jam besuk baru saja dibuka, sementara shift malam para tenaga medis baru akan bergulir setengah jam lagi. Aroma makanan, percakapan orang - orang yang ada di dalam kafetaria ini, dan juga interaksi dengan pelayan restoran menjadi pemandangan sibuk sore ini. Namun di tengah semua keramaian itu, di meja nomor tiga belas yang terletak di pojok, di samping jendela besar yang menghadap ke taman rumah sakit, ada sepasang mata yang saling menatap dalam diam. Dhannis masih belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun sejak mereka duduk. Ia seperti pelajar yang tertangkap basah melamun saat jam pelajaran berlangsung, lalu harus menjawa

