"Kamu juga harus hati - hati sama Adel ya, Na," suara Om Rayyan terdengar tenang tapi dalam, seperti mencoba menahan sesuatu yang selama ini mengganjal di dadanya. "Dia belum cukup dewasa untuk berpikir banyak hal. Om takut dia melakukan semua tindakan berdasarkan emosi aja, nggak dipikirin matang - matang." Ina mendongak, menatap Om Rayyan yang kini wajahnya tampak jauh lebih serius dari sebelumnya. "Bisa jadi sekarang dia lagi sebel sama mamanya dan mencari teman, dan dia menemukan kecocokan sama kamu. Om takutnya kalau mamanya berhasil mengambil hatinya lagi, takutnya dia malah berbalik. Kamu tahu kan maksud Om?" "Iya, Om," jawab Ina pelan, tapi sorot matanya mengisyaratkan pergolakan batin. Sejenak, ruangan itu terasa lengang meski bukan hanya mereka yang duduk bertiga di restoran

