Keheningan yang menyusul percakapan mereka seakan menyumbat udara. Tidak ada suara lain di kamar itu selain detik jam dinding dan napas yang terasa berat. Yasmin berdiri kaku di depan cermin, membelakangi suaminya. Ia tak berani berbalik. Ia tahu, malam ini bukan malam biasa. Ini malam yang bisa menjadi titik balik dalam hidupnya, entah menuju kehancuran atau kelegaan. Tapi ia belum siap menghadapi keduanya. Ia menatap bayangannya sendiri. Mata itu tidak lagi teduh. Wajah itu, meski tetap cantik dan terawat, kini tampak tegang dan kehilangan sinarnya. Dadanya berdebar kencang, tapi ia berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar wajar. "Aku memang pergi sebentar," ucapnya, pelan namun cukup terdengar. "Cuma mampir ketemu teman lama. Nggak penting, aku pikir nggak perlu diceritain."

