Mobil sedan hitam milik Dhannis melaju perlahan keluar dari area parkir Café Milan. Menjelang tengah hari, sekitar pukul setengah sebelas, langit Jakarta memancarkan cahaya yang hangat. Mentari tidak terlalu terik, awan putih tipis menggantung di atas gedung-gedung tinggi, membuat suasana terasa lebih teduh. Udara yang masuk lewat jendela mobil yang sedikit dibuka membawa aroma jalanan kota yang sibuk tapi penuh kehidupan. Di jok penumpang, Ina duduk santai dengan ekspresi wajah yang bahagia. Semangat dari pertemuan barusan bersama Om Owka masih terasa kuat. Ternyata obrolan itu jauh lebih santai dari yang ia bayangkan. Tidak ada tekanan, tidak juga ekspektasi yang membuatnya canggung. Ia sempat merasa gugup sebelum masuk ke ruang kantor atas Café Milan, tapi kini hatinya terasa ringan. I

