Bab 147. Indira vs Anggi

1501 Words

Jam menunjukkan pukul tiga sore. Rapat komisaris akhirnya usai setelah dua jam penuh pembahasan serius. Para direktur satu per satu keluar dari ruang meeting sambil membawa berkas dan laptop mereka. Beberapa masih sempat menyalami Adnan dan Indira, memberi ucapan selamat atas kehangatan dan visi mereka yang baru saja disampaikan di hadapan semua orang. Adnan tampak masih berbincang sebentar dengan Regan mengenai hasil keputusan terakhir, sementara Indira duduk di kursi samping, sesekali menghela napas pelan. Ia menahan diri sejak tadi — perut bagian bawahnya terasa sedikit kram. “Mas,” katanya dengan nada setengah berbisik. Adnan segera menoleh. “Kenapa, Sayang? Kamu kelihatan pucat.” Indira tersenyum canggung. “Aku mau ke toilet dulu, Mas. Dari tadi nahan.” “Oh, ya sudah. Aku tunggu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD