Siang itu, tenda di halaman rumah sederhana milik keluarga Indira benar-benar dipenuhi aura bahagia. Suara doa dan gema “sah!” yang tadi menggema masih seolah terngiang di telinga para tamu. Wajah-wajah berseri terlihat di setiap sudut ruangan, meski sebagian dari mereka tadi terkejut dengan keputusan mendadak yang membuat lamaran sederhana berubah menjadi akad nikah yang penuh haru. Indira dan Adnan kini duduk berdampingan di kursi pelaminan kecil yang disiapkan mendadak. Meski tidak semewah pesta di gedung, suasananya justru lebih hangat. Senyum dan doa tak berhenti mengalir dari setiap orang yang menghampiri mereka untuk menyalami dan mengucapkan selamat. Papa Banyu berdiri di tengah kerumunan, menyeka keringat di pelipisnya. Meski kelelahan, ia tampak lega sekaligus bahagia. “Alhamdu

