Bab 69. Pagi Yang Menyayat Hati

1401 Words

Pagi itu, udara di tempat kediaman Tria begitu berat. Aroma bunga melati dan kamboja bercampur dengan bau tanah basah yang baru disiram. Bendera kuning berkibar lesu di depan rumah, tanda bahwa duka telah menyelimuti keluarga besar. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an dari pengeras suara mushola setempat terdengar lirih, mengisi setiap sudut rumah yang penuh pelayat. Halaman depan dipenuhi kursi plastik yang disusun berderet. Para tetangga berbondong-bondong datang, sebagian membawa nampan berisi makanan, sebagian lagi hanya membawa doa dan pelukan simpati. Di dalam rumah, suasana lebih sesak. Beberapa keluarga besar sudah duduk di ruang tamu, wajah-wajah muram mereka menunduk, sebagian terisak, sebagian lagi sibuk membaca yasin. Di tengah suasana itu, Yanna duduk bersimpuh di dekat rua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD