Bab 100. Dua Dunia Terluka

1304 Words

Malam itu, langit Surabaya tampak muram. Hujan rintik-rintik turun, menambah dingin yang menusuk hati semua orang yang tengah menanti kabar di rumah sakit. Jam dinding di lorong menunjukkan hampir pukul sembilan malam, namun suasana seakan berhenti di satu titik: penuh hening, penuh doa, dan penuh penantian. Ian, yang sebelumnya sempat tertidur di bed tambahan, mulai terbangun dan rewel. Bocah kecil itu merengek pelan, mencari-cari ibunya. “Mama … Mama ….” Suaranya lirih, matanya yang sembab menatap sekitar dengan bingung. Vivi mencoba menenangkan, mengusap punggung mungilnya. “Ssst … Sayang … Mama masih istirahat. Nanti Mama datang, ya?” Tapi Ian tetap meronta, tangannya terulur ke arah ranjang tempat Indira berada. Air mata tipis mengalir di pipinya. Yanna yang sejak awal terbiasa me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD