Saat suara pintu terbuka terdengar di telinga, Zena langsung bangkit dari duduknya. Napas wanita itu tak beraturan, dia menatap tajam Justin yang sedang terkekeh. Otak pria itu memang rada-rada, Zena sangat tidak paham. Zena membenarkan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Zen?” Refleks Zena menoleh. Kini dihadapan Zena berdiri Geraldy yang masih dengan pakaian formalnya. Zena berusaha menarik sudut bibirnya ketika Geraldy mencium pipinya. Dalam hati Zena sudah bergidik ngeri. Lewat ekor mata dia melirik Justin. Pria itu masih terlihat tenang seperti tidak terjadi apapun. Setelah menyapa kekasihnya, Geraldy beralih ke sang paman. “Paman? Udah ketemu flashdisknya?” Justin dengan santai menggelengkan kepalanya. “Paman baru sampai. Selain itu ngga enak acak-acak kamar orang. Ya wa

