"Kira-kira Ayna setuju ngga ya kalau harus tinggal di sini? Apa dia ngga mau? Kalau dia ngga mau gimana, Yah?" Pradipta menaruh cangkir kopi miliknya ke atas meja. Sejak semalam, bahkan sampai detik ini, istrinya masih sangat gusar menunggu jawaban anak dan menantunya. Jujur saja kalau Pradipta sendiri tidak mempermasalahkan. Dia membiarkan anak menantunya itu menentukan keputusannya sendiri. Terkadang apa yang menurut dirinya baik belum tentu buat anak-anaknya. Pradipta tidak mau egois, tapi tidak dengan Salwa. Niatnya sebagai ibu memang baik dan wajar, semoga Ayna tidak berfikir macam-macam. "Semua keputusan ada di tangan mereka. Lebih tepatnya di tangan Ayna. Kalau dia merasa hidup berdua jauh lebih baik kita bisa apa? Buat maksa pun ngga akan bisa. Bisa, tapi resikonya Ayna jadi sun

