Tanpa menunggu lebih lama lagi, Renata segera melangkah cepat menghampiri putrinya. Begitu jarak di antara mereka menyempit, pertahanan Renata runtuh seketika. Tangisnya pecah, langkahnya goyah, lalu kedua tangannya meraih tubuh Alesha seolah takut kehilangannya lagi. “Hiks… hiks… sayang… hiks… hiks… kamu nggak papa kan, sayang? Hiks… hiks… kamu nggak papa, kan?” Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Alesha, memeriksa setiap inci dengan panik, seakan mencari luka yang tak terlihat. “Hiks… hiks… keadaan kamu sekarang baik-baik aja kan, sayang? Hiks… hiks… keadaan kamu sekarang baik-baik aja kan?” Renata tak berhenti menangis, suaranya patah-patah, air mata jatuh tanpa bisa ia kendalikan. “Mamaaah… mamah kenapa nangiiis?” Alesha langsung menenangkannya. Dengan lembut, ia menghapus air

