Namun bukannya tersentuh— Ibu Sekar justru tampak semakin muak. “Kamu boleh memainkan dramamu di depan orang lain.” Tatapannya dingin. “Tapi jangan di depan saya.” Ia bahkan menutup mulutnya dengan tangan. “Bukannya kasihan, saya malah jadi mual melihatnya.” “Jangan sampai saya muntah di depanmu.” Mata Celine langsung membesar. Ia tidak menyangka wanita setenang Ibu Sekar bisa bersikap setajam itu. Refleks, ia mundur beberapa langkah. Takut kalau ucapan itu benar-benar terjadi. Ibu Sekar memperhatikannya dengan senyum sinis. “Kenapa kamu mundur?” “Apa kamu takut?” Lalu ia menunjuk ke arah gerbang rumah. “Bagus kalau begitu.” “Sekalian saja kamu pergi dari sini.” Nada suaranya penuh penegasan. “Sampai kapan pun saya tidak akan pernah merestui hubunganmu

