Dua jam berlalu, akhirnya jam mata kuliah Gavin selesai. Suasana kelas mulai riuh, tapi sebelum melangkah keluar, Gavin tiba-tiba berhenti dan menoleh tajam. “Siapa nama kamu?” tanyanya dingin, tatapan matanya lurus mengarah ke Laura yang masih dihukum, berdiri di depan kelas. “M-Maksudnya?” Laura mengerjap bingung. Ia menoleh ke kanan-kiri, memastikan apakah pertanyaan itu benar ditujukan padanya. “Iya, kamu. Siapa nama kamu?” ulang Gavin, lebih tegas, dengan ekspresi datar seakan tak mengenalnya sama sekali. Laura terdiam, syok. Senyum getir terbit di bibirnya, sambil menggeleng pelan. “What?! Serius? Mas Gavin nanya nama gue siapa?!” batinnya tak percaya. “Bener-bener ya, Mas Gavin ini! Masih aja sok pura-pura nggak kenal sama gue. Keterlaluan banget, sih?!” gerutunya dalam

