“Waalaikumsalam.” Ibu Sekar langsung menoleh begitu suara itu terdengar. “Dari mana saja kamu, Darrell? Mama sampai mencarimu tadi.” Darrell berjalan masuk dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa. “Darrel pergi sebentar, Ma.” “Sebentar?” Ibu Sekar mengangkat alis. “Kenapa nggak pamit dulu?” Darrell menghela napas pelan. “Maaf, Ma. Tadi Rangga nelepon. Dia minta Darrel datang ke kantor, jadi Darrel buru-buru pergi.” Ibu Sekar langsung mengerutkan kening. “Bukannya kamu sedang mengambil cuti?” tanyanya dengan nada sedikit tajam. “Kenapa masih mengurusi pekerjaan?” Tatapannya menjadi lebih serius. “Apa Rangga nggak sanggup mengerjakan tugasnya sendiri? Kalau memang dia sudah nggak mampu, sebaiknya kamu cari asisten lain saja.” Mendengar itu, Darrell

