Kembali lagi pada Laura... “Iya, benar. Aku harus cepat-cepat pergi dari kehidupan Mas Gavin!” bisiknya dalam hati, matanya masih sembab oleh air mata yang belum sempat kering. “Sekarang aku harus hapus air mataku… aku harus pura-pura tenang, pura-pura baik-baik saja, sebelum Mas Gavin pul—” Belum sempat pikirannya selesai, suara deru mesin mobil terdengar jelas dari halaman rumah. Jantung Laura seolah berhenti berdetak. Ia tahu betul suara itu. Gavin. Suaminya benar-benar sudah pulang. “A-aku harus hapus air mataku sekarang!” Ia panik. Dengan tergesa-gesa, tangannya mengusap pipinya yang masih basah, menyembunyikan sisa tangis yang tak sempat ia hapus sempurna. “Aku nggak boleh sampai ketahuan Mas Gavin… aku nggak mau dia tahu aku habis menangis.” Gumamnya lagi dengan suara nyar

