Sementara itu, di ruang utama Kenzo… Kenzo tampak mondar-mandir di balik meja kerjanya. Berkas-berkas penting berserakan, beberapa map terbuka, sebagian lain sudah ia susun ulang dengan gerakan kasar—jelas tak sabar. “Aduh…” gerutunya, napasnya berat. “Di mana lagi berkas buat meeting itu? Perasaan semuanya sudah aku susun ulang… tapi kenapa masih juga belum ketemu?” Ia menarik laci, membuka lemari arsip, lalu menutupnya kembali dengan bunyi cekrek keras. Raut wajahnya mengeras, rahangnya menegang. “Aduh, Alesha!” Kenzo menghela napas pelan—lalu membuangnya kasar. “Semua ini gara-gara kamu, tahu nggak sih?” ucapnya kesal, nada suaranya dingin penuh tuduhan. Ia kembali mengacak tumpukan dokumen dengan gerakan frustrasi. Namun saat sedang membungkuk mencari di rak bawah, pintu ruanga

