Beberapa jam kemudian… Setelah Andra dan Cindy selesai menuntaskan hasratnya... Lampu kamar masih temaram. Keheningan menggantung, menyisakan napas yang belum sepenuhnya tenang. Cindy memiringkan tubuh, menatap wajah Andra yang terbaring di sampingnya. “Mas Andra…” suaranya pelan, nyaris berbisik. “Sebenarnya Mas Andra kenapa?” Andra tak langsung menjawab. Tatapannya kosong, menatap langit-langit seolah beban di kepalanya terlalu berat untuk diucapkan. "Mas Andra ada masalah lagi sama Mba Ayu?” Cindy menambahkan, matanya menyelidik. Andra menghela napas panjang. “Ya… biasa lah, Sayang,” jawabnya singkat. “Kamu juga tau sendiri Ayu itu kayak gimana.” Cindy tersenyum samar. Senyum yang sulit ditebak maknanya—antara iba dan kepuasan. “Hemm…” Tiba-tiba ponsel di sampi

