Namun begitu pintu terbuka, ruangan itu kosong. Tak ada Gavin. Tak ada sosok ayah yang biasanya menunggunya dengan tatapan tajam dan suara rendah yang membuat jantungnya berdebar ketakutan. “Lho… kok bokap nggak ada?” bisiknya pelan. “Jangan-jangan Rayan bohongin gue? Tapi tadi mobil bokap ada di depan, berarti beneran pulang dong…” Sagara menatap sekeliling. “Apa jangan-jangan bokap udah tidur? Wah, kalau gitu sih, aman gue.” Senyum lega muncul di wajahnya. Ia melangkah cepat menuju kamarnya, mencoba menahan tawa kecil di tenggorokan. “Hmm, dasar bocah ingusan…” gumam Gavin dengan senyum miring di bibirnya. “Bisanya cuma bikin orang tua pusing aja. Ya sudah, sekarang lakukan saja semua yang kamu mau. Nikmatilah selagi kamu bisa.” Nada suaranya terdengar sinis, tapi ada gurat kelel

