Kembali Pada Nita... Ia kembali melajukan mobilnya. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, membentuk bayangan yang samar di mata Nita yang sembab. Ia mengemudi tanpa arah. Tanpa tujuan. “Ya Tuhan…” suaranya bergetar pelan di dalam kabin yang sunyi. “Gue harus ke mana?” Air mata kembali menggenang. “Gue nggak mungkin pulang… Gue nggak mau menikah sama Om Yudha…” Kalimat itu terasa seperti pisau yang terus menggores dadanya sendiri. Malam semakin larut, tapi pikirannya justru semakin buntu. Ia merasa sendirian. Terpojok. Seolah seluruh dunia sedang menutup pintu untuknya. Namun satu hal masih mengganjal. Rara. “Gue penasaran… sebenarnya itu anak ke mana…” Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar. Satu kali menelepon. Tak ada jawaban. Dua kali. Tetap sunyi. Ia menatap layar

