Dua Hari Kemudian — Di Rumah Melly Pukul menunjukkan 08.00 pagi. Tin… Tin… Tin!!! Suara klakson mobil sport mewah menggema di depan rumah sederhana itu. Debu di jalan sempit beterbangan, dan beberapa tetangga sempat menoleh penasaran. Melly yang sejak pagi sibuk membantu Bu Wati menyiapkan warung gado-gado di teras langsung menoleh dengan dahi berkerut. “B–Bang Raka?!!!” serunya kaget, setengah bingung. “Siapa, Nak?” tanya Bu Wati, masih sibuk mengiris lontong. Begitu menoleh, mata wanita paruh baya itu ikut membulat. “Lho, Nak Raka!” serunya dengan senyum lebar yang spontan. Raka keluar dari mobilnya dengan kacamata hitam, kemeja putih tergulung di siku, dan senyum kecil yang—entah kenapa—selalu berhasil membuat jantung Melly berdetak lebih cepat. Ia melangkah santai mende

