Tiba-tiba, seorang mahasiswa maju dengan wajah panik. “Pak Sagara… s-saya minta maaf… sumpah saya nggak sengaja, Pak! Saya bener-bener nggak sengaja nendang bola itu!” Sagara menoleh perlahan. Matanya merah, penuh kemarahan dan ketakutan bercampur menjadi satu. “Jadi… ini ulah kamu?” Suaranya rendah… tajam… seperti pisau. Mahasiswa itu mundur selangkah. “S-saya nggak sengaja, pak. Bener-bener nggak seng—” Sagara tak menunggu. Ia langsung menarik kerah baju mahasiswa itu dengan kasar, hampir mengangkatnya dari tanah. “Kurang aj—!!” Tangan Sagara terangkat. Semua mahasiswa menahan napas. Ia benar-benar mau memukul. Tapi sebelum tangannya melayang, seseorang menahan lengannya. “Cukup, Sagara! CUKUP!” Itu Rayan. “Rayan… lepaskan!” Sagara berteriak penuh emos

