Tania menelan ludah, bibirnya gemetar. “S-Sayang… itu bukan kayak yang kamu pikir… aku cuma—” “Cukup.” Satu kata itu keluar pelan, tapi tajam seperti pisau. Sagara mengangkat pandangannya. Matanya merah, suaranya serak, seperti seseorang yang baru saja kehilangan separuh hidupnya. “Jadi ini yang kamu bilang ‘tugas di rumah Rara’? Ini hasil lembur kalian berdua?” Tania terisak, mencoba mendekat. “Sagara, Sayang, please, aku bisa jelasin. Aku cuma—” “Jangan sentuh aku!” bentaknya tiba-tiba, membuat Tania mundur ketakutan. Air mata menetes di wajahnya, tapi Sagara tak lagi peduli. Yang ia rasakan kini cuma satu — hancur. Ia menatap laki-laki di belakang Tania. Rasya. Iya, Rasya. Sahabatnya sendiri. Orang yang selama ini selalu ia banggakan karena kesetiaannya. Or

