Sementara Darrell sedang bersitegang dengan Celine di kantornya, di tempat berbeda—di rumah Alif—Rara justru baru terbangun dari tidurnya. DI DAPUR Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi. Di meja makan, sepiring sarapan masih tersaji rapi. Nasi hangat sudah tak lagi mengepul. Pak Asep melangkah masuk ke dapur, melewati meja makan itu dengan dahi sedikit berkerut. “Mbok, Non Rara belum bangun?” tanyanya pelan. “Iya, Pak. Belum,” jawab Mbok Ijah sambil mengaduk sayur di wajan. “Sarapan juga belum disentuh.” Ia menurunkan suaranya. “Mbok mau bangunin… tapi takut Non Rara marah lagi kayak semalam.” Pak Asep mengangguk maklum. “Ya sudah, nggak usah dibangunin. Biar bangun sendiri saj—” “Eh, Pak! Sssttt!” Mbok Ijah mendadak menyenggol lengan suaminya. Pak Asep refleks menoleh. “I-

