Di saat Nita sedang bergulat dengan masalah hidupnya yang terasa semakin rumit, di sudut lain sekolah, Bara justru berdiri bersandar pada mobilnya, menunggu Tania—istrinya—yang tak kunjung keluar dari gerbang. Waktu berlalu. Lima belas menit. Dua puluh menit. Hampir setengah jam. Namun Tania belum juga muncul. Bara menghela napas panjang. Rahangnya mengeras. Tanpa banyak pikir, ia mengetik pesan. “Kamu di mana? Mas lagi nungguin.” Tak lama kemudian— Ting. Ponsel Tania bergetar di dalam tasnya. Ia melirik layar, melihat nama Bara terpampang jelas. Hatinya mencelos. Ia menarik napas sebelum membalas. “Nggak usah nungguin Tania. Tania masih ada pelajaran tambahan sama Pak Erik.” Sebuah kebohongan. Bara membaca pesan itu. Alisnya langsung bertaut. Ia tahu itu tidak benar. “Jang

