“Hiks… hiks… Mas Gaviiiin, Laura takuuut… gelap, Maaas… nyalain lampunyaaa!” rengek Laura dengan suara bergetar. Ia buru-buru berbalik menghadap Gavin, lalu langsung memeluknya erat, seolah tak ingin dilepas. “Sudah, sudah… ssssttt… enggak usah takut, Sayang. Ada Mas di sini,” Gavin menenangkan sambil mengusap lembut rambutnya, penuh kasih sayang. “Mas Gavin, ngapain sih ajak Laura ke sini? Laura enggak mau di sini, Maaas! Gelaaap, Laura takuuut!” rengek Laura lagi, wajahnya manja sekaligus kesal. Gavin pun perlahan melepaskan pelukan itu, lalu menatap dalam ke wajah cantiknya. “Mas minta maaf, ya. Tadi di kelas Mas sempat marah sama kamu,” ucapnya tulus. “Sebenernya Mas enggak benar-benar marah kok.” “Hiks… bohong! Mas tadi beneran marah sama Laura! Mas jahat! Mas udah enggak sa

