Windy hanya menghela nafas panjang, setiap kali perselisihan dengan sang suami tentang sang putera, memang selalu membuatnya merasa bersalah, karena ikut campur. Tapi pola pikir Windy sangat sederhana. Kalau memang tidak cinta ngapain nikah. Dan kalau memang cinta ngapain berlama-lama menikah toh sudah matang dan mampu mencari nafkah sendiri, jadi kenapa harus menunda-nunda yang nantinya hanya akan menambah dosa saja. Tapi sang suami yang memiliki pendapat sendiri dan tidak pernah terbuka akan pendapat itu kepada sang anak dan hanya bisa menyampaikan dengan kalimat kasar, membuat sang anak menjadi kecewa padanya, sehingga sang anak membentengi diri sekokoh mungkin untuk menerima setiap maksud kebaikan yang di sampaikan sang ayah. “Tetap saja, Pa. Kita bilang sekalipun iini ke Mariska. M

