“Undangan? Siapa yang nikah?” Tanya Ziont lagi penasaran kenapa sampai Mariska sendiri yang mengantarkan undangan tersebut. seolah undangan tersebut adalah penting. “Lo baca aja sendiri, jangan nangis, ya?” Celetuk Mariska membuat Ziont menggernyitkan dahinya dan meraih undangan yang ada di hadpaannya. Ziont membaca sejenak kertas undangan yang ada di tangannya, lalu seketika tawanya meledak dan mengisi seluruh ruangan. “Gilingan. Ngapain lo bawa sampah ini kesini?” Tanya Ziont membuang undangan pertunangan yang ada di tangannya, membuat Mariska terkejut. “Lo kenapa? Jangan-jangan lo masih ada rasa dan cemburu ngeliat undangan itu?” Ledek Mariska membuat Ziont menjawab dalam tawanya. “Ngapain gua cemburu ama sampah model begitu. Masih banyak wanita terhormat di luaran sana yang mampu

