Bab 78

2214 Words

Malam itu udara New York benar-benar dingin. Mobil hitam panjang milik Albert melaju melewati jalanan sepi dengan lampu kota yang berkilauan. Ia duduk di kursi belakang dengan jas masih melekat sempurna, dasinya agak longgar setelah acara panjang hari ini. Wajahnya tampak lelah, tapi di matanya masih ada bara yang tidak padam—bara yang hanya menyala ketika ia memikirkan Kiara. Ketika mobil berhenti di depan mansion megah yang berdiri anggun di tengah pekarangan luas, Albert turun dengan langkah mantap. Lampu-lampu luar masih menyala lembut, tapi suasana mansion begitu sunyi, hanya suara angin malam yang terdengar. Para pengawal segera membungkuk memberi hormat, namun Albert hanya mengangkat tangannya singkat sebagai tanda, lalu melangkah masuk. Begitu pintu besar itu tertutup di belakang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD